Minggu, 05 Juli 2015

Ceritaku pada senja tentang "dia"

Heii Senja,, apa kamu tau aku sudah sedikit melupakanmu?
Yaa..sedikit saja..
Walau terkadang ketika aku bertemu denganmu lagi rasanya aku masih bimbang..
Mungkin aku belum benar-benar pergi dari mu atau kamu yang sengaja masih memberikan bekas disini..
Entahlah..
Aku tau gengsi kita sama-sama besar J
Mungkin aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku tak tergantung lagi padamu..
Dan aku akan membiarkanmu pergi bersama wanita lain atau sekedar pergi memeluk malam..

Aku ingin menceritakan kepadamu tentang seseorang yang menarik perhatianku..
Aku tak akan membandingkannya denganmu.. Tenang saja..
Aku percaya setiap orang punya keunikannya masing-masing..
Tapi ada sedikit kemiripan antara kalian berdua..
Pecinta warna biru dan penyanyi dengan suara rendah.. Sama kan..?
Hanya itu,, aku janji tak akan membandingkannya lagi..
Aku tak tau apa aku akan terjebak di zona kakak adek lagi seperti kita dulu..
Kemudian berubah,, jadi yaa...
katakanlah sesuatu yang bernama sayang, cinta, atau apalah..
Dan sejak saat itu semuanya justru berubah..

Dia tidak terlalu tinggi, berkulit hitam manis, dengan rahang keras khas pria Indonesia Timur..
Aku tak tau apa yang membuatnya begitu mempesona..
Dia tak tampan, tapi dia punya lesung pipit yang mungkin membuatku jatuh cinta ketika dia tersenyum atau tertawa dan memamerkan deretan rapi gigi putihnya..
Aku selalu senang melihat dia tertawa saat mendengarkan aku bercerita dengan hebohnya..
Tipe orang yang memperhatikan lawan bicaranya dan suka memperhatikan hal-hal kecil yang tak terduga..
Bayangkan saja, dia membetulkan pijakan kaki motor bagian belakang dengan tangannya sebelum aku naik ke motornya..
Oh Tuhan..mungkin bagi pria itu tak penting..
Tapi bagi wanita,, terlebih aku pribadi merasa tersentuh..
Hal kecil dan sederhana yang justru membuat ku bahagia..
Sebenarnya dia bisa saja menggunakan kakinya, atau membiarkannya saja karna nanti aku akan membetulkan pijakan itu dengan sendirinya..

Aku mengenalnya dan menjadi begitu akrab tanpa sengaja..
Mungkin waktu yang membuat kita seperti itu..
Tak banyak yang aku tau dari dia sebenarnya..
Mungkin lebih banyak dia tau tentang aku..
Bukan karena dia tertarik padaku dan mencari tau,, tapi yaa kamu tau sendiri aku selalu heboh ketika bercerita..
Aku yakin banyak hal yang dia tau dari ceritaku yang mengalir..
Bahkan kamu jangan kaget karena dia tau tentang kamu.. J

Dia begitu suka angka 15, karena katanya itu adalah angka keberuntungannya..
Mulai dari tanggal dan bulan kelahirannya jika dijumlahkan hasilnya adalah angka 15, bahkan hingga percaya bahwa tahun 2015 ini adalah tahun keberuntungannya sehingga dia harus lulus dan wisuda tahun ini..
Lucu dan unik sekali pemikirannya.. Hhahaaa..
Aku dan dia sama-sama hobi bercerita,, apa saja bisa kami ceritakan dan jadi bahan obrolan yang begitu menyenangkan..
Aku senang bisa mengenalnya dan dia juga pernah bilang senang bisa mengenalku..
Katanya,, senang bisa kenal orang yang sama gilanya.. J

1 bulan aku merepotkannya, diantar dijemput setiap kali latihan..
Yaa kita masih biasa saja dan begitu menikmati, hingga akhirnya gosip-gosip mulai bermunculan..
Kata “ciieee”, entah kenapa membuatku trauma..
Kedekatan kami malah justru menjadi renggang..
Oh entahlah ini perasaanku saja atau bagaimana..
Kami semakin jauh..
Entah dia yang menarik diri,, atau aku yang tanpa sadar justru menarik diri..
Hal ini yang aku takuti dan sejujurnya tidak aku inginkan..
Aku ingin berjalan biasa saja,, bercerita apa saja,, terus dekat tanpa harus terganggu dengan olok-olokan dan seolah dipojokkan..
Mungkin lebih baik diam saja dan ketika sudah lama jadian orang baru tau bahwa kita dekat, seperti dulu ketika aku denganmu senja..
Ohh maafkan aku mengungkitnya.. Aku terbawa arus..
Percayalah bahwa menjalin hubungan dalam diam tanpa ada yang tau lebih menyenangkan daripada tidak ada apa-apa tapi banyak orang menganggap ada apa-apa..

Aku tak tau,, dan sebenarnya aku tak mau tau kalau sampai hatiku telah terpikat padanya..
Aku masih takut.. Aku tak mau perasaan ini lebih menghancurkan zona kakak adek kami..
Jujur aku masih trauma..

Aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa..
Dan kami bukanlah apa-apa..

Selasa, 31 Maret 2015

"Mawar Putih yang menjadi Biru.."


Aku mengenal mu dari seorang kekasih ku..
Dulu,, mawar putih melambangkan rasa cinta yang sejati..
Seorang kekasih yang sangat mencintai dan menyayangi diri ku..

Sejati kah..?
Jika kini mawar itu telah layu..
Sejati kah..?
Jika semua telah berlalu..

Kamu berubah menjadi haru biru..
Kini,, aku mengenalmu dari kesendirian ku..
Sekuntum mawar biru yang menuai kekaguman ku..
Misterius..
Sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan..
Terlalu indah,, bahkan terlalu sulit untuk terucap..
Melambangkan ketidakmungkinan dalam sebuah kebekuan..
Perasaan yang begitu dalam..

Namun kamu tetaplah mawar..
Mawar yang ku kenal dari seorang kekasih ku..
Mawar putih yang kini telah menjadi biru..

Selasa, 02 Desember 2014

Kecewa ku :')

Aku harus sampaikan ini..
Sebelum hujan berhenti,,
Sebelum senja menghilang,,
Sebelum embun pagi datang..

Ini kekecewaan ku . . .

Bukan karena perlakuan mu,,
Bukan karena sikap mu,,
Bukan pula karena tutur kata mu..
Tapi karena ketakutan mu..
Aku tau itu..

Kamu telah menghapusnya,, membuangnya..
Entah kemana..

Aku kecewa . . .

Aku tak menemukan sedikit pun yang tersisa..
Kotak itu kosong..
Kotak yang aku sembunyikan di dalam almari..
Di sudut terdalam yang tak pernah nampak..

Aku tak pernah sekali pun membenci mu,,
Menghapus jejek itu,,
Apa lagi membuang kertas-kertas itu..
Niat pun tak pernah ada..

Aku hanya menyimpannya,, menyembunyikannya..
Supaya aku tak selalu membukanya..
Itu yang kamu minta bukan..?

Ingatlah,,
seberapa jauh kamu membuangnya,, semua akan tetap menjadi jasad..
Dan suatu saat bau itu kan tercium,,
membuat mu kembali untuk mencarinya..

Ini bukan ancaman,, namun sebuah pesan..
Yang pergi suatu saat akan kembali..
Aku sangat mengenal mu,, melebihi kamu mengenal diri mu..
Karena kotak itu adalah rumahnya,,
apa yang telah kamu jauhkan dan kamu buang,,
dia tetap ada di rumahnya..
Inilah yang dinamakan 'kenangan'

Jangan kamu cari,, bila aku membawa kotak itu pergi..
Maaf..
Aku kecewa . . .

Selasa, 18 November 2014

Aku Menyebutnya Titik-Titik Embun

Ini sebuah cerita..
Apa maksudnya.. Dan apa maknanya..
Jangan tanya pada ku.. Karena aku pun tak tau..

Mungkin aku seorang yang mudah mengagumi..
Terlebih mereka yang telah dibentuk-Nya..
Dirias auranya.. Dipoles pikir dan rasanya..

Aku tak tau seberapa kuat perasaan-perasaan ini..
Tapi ini bukan yang pertama kali atau kedua kalianya..
Ketiga,, keempat,, kelima,, kesepuluh,, entahlah ke berapa lagi aku pun tak ingat..
Rasanya begitu kuat luar biasa..

Selalu berbeda ketika bertemu dengan mereka..
Aku menyebutnya titik-titik embun di daun talas..
Dingin tapi menyejukkan..
Sejenak tapi menenangkan..
Kamu yang mengenal ku pasti tau..

Adakah diantara titik-titik embun tersebut tercipta untukku..?
Menyejukkan dan menenangkan ku..?
Aku tak tau.. Sejenak lalu hilang..
Hanya kagum kah..? Nasib yang sama kah..?
Rasa yang sama kah..?
Lagi-lagi aku tak tau..

Tolong bantu aku..
Siapa kamu titik-titik embun..?
Y, T, A, K, R atau siapa lagi..?
Datang dengan cepat dan berlalu dengan cepat..
Sejenak tapi seakan memiliki..

Aku yang tak pernah tau,,
di daun talas manakah akan ku temukan embun pagi itu lagi..

Yang pernah datang seolah tak akan kembali lagi..
Silih berganti tak sempat ku ucapkan selamat pagi..

Kamis, 30 Oktober 2014

Kunang-Kunang

Haii kunang-kunang..
Kamu terlihat mempesona..
Datang berputar-putar disekitarku..
Mengajakku bermain dan mengalihkan apa pun itu..

Kamu datang setiap hari..
Tak tau waktu..

Terkadang dini hari ketika aku bangun tidur..
Terkadang di siang yang terik ketika aku sedang beraktivitas..
Terkadang di sore hari saat aku sedang menikmati temaram senja..
Dan terkadang malam hari ketika aku sibuk dengan tugas-tugas ku..

Tak masalah kamu datang..
Tapi tak seharusnya seintens itu..
Sering kali sepanjang hari kamu datang mengajakku bermain..

Kamu bukan kekasih ku,,
tetapi aku harus berbagi dengan mu..
Memperhatikan mu lebih sering..
Mengabaikan tugas-tugas ku..
Semuanya..
Saat kamu datang aku pun rela meninggalkan apa pun itu..
Yaa..hanya untuk menemani kehadiran mu..

Aku tak berniat mengusir mu..
Tapi tolong lah aku..
Aku menyadari kehadiran mu..
Sepenuhnya menyadari mu..
Dan aku tau kamu sudah menjadi bagian dari tubuh ku..
Bahkan mungkin jiwa ku..

Sesakit apa pun itu.. Aku tak akan mengusir mu..
Justru karena kamu aku bersyukur masih bisa merasakan sakit..
Bagus bukan? Karena ternyata aku tidak mati rasa..
Buktinya aku masih merasakan kamu ada..

Kamu boleh datang..
Boleh mengajakku bermain..
Tapi aku mohon,,
jangan ajak aku ikut bersama mu..
Aku takut..

Masih Tentangnya..

Apa kalian mengenalnya?
Ini masih tentangnya..
Tentang pendar cahaya malam..
Aku merasa sangat mengenalnya..
Dia seperti Revan.. Yaa kekasih ku..
Tak ada yang tau kan kalau aku memiliki kekasih..?
Dia kekasih khayalan ku..
Bukan..
Tentu saja bukan khayalan..
Dia nyata bagiku.. Hanya saja kalian tak bisa melihatnya..
Jika kalian dapat melihatnya,, kalian pasti akan berpendapat sama seperti aku..
Tak ada yang berbeda.. Nyaris kembar mungkin..
Aku tak bisa menggambarkannya.. Karena aku tak melihat dari fisiknya..
Aku melihat dari hatinya yang begitu tulus..
Yaa seperti pendar cahaya malam..
Memandangnya cukup tak berlensa..

Jika Tak Cukup Waktu ku . . .

Jika tak cukup waktu ku menikmati hangatnya mentari pagi,,
setidaknya aku masih dapat merasakan dinginnya malam ini..

Jika tak cukup waktu ku untuk mengucapkan selamat pagi,,
setidaknya aku masih dapat memandangmu dari sini..

Jika tak cukup waktu ku untuk membuat mu tertawa,,
setidaknya aku masih berusaha menahan mu untuk tidak berduka..

dan

Jika tak cukup waktu ku untuk tinggal lebih lama,,
setidaknya aku masih berusaha ada.. :')