16 Maret 2007 aku mengenalnya..
Seperti air yang selalu
memberi ketenangan.. Mengalir pada tempatnya..
Yaa..dia tenang,, tidak banyak
bicara.. Sulit ditebak..
Raut wajahnya yang keras menggambarkan ketegasan..
Namun ada sisi lembut dan memberikan kenyamanan..
Terlalu awal aku mengenalnya
sebagai yang indah ketika itu..
Aku rapuh tanpa nya..
Namun ada yang lebih
rapuh ketika tak ada dia..
Seorang gadis cantik penderita radang otak membutuhkannya
untuk selalu ada,, menemaninya,, menjaganya..
Aku sadar gadis itu lebih
membutuhkannya..
Ku lepas yang indah ketika itu di persimpangan..
Aku
merelakannya.. Dan aku merasakan kehilangan yang pertama..
31 Maret 2010 aku mengenalnya..
Seperti seorang malaikat
yang dikirim Tuhan.. Menjagaku dalam diam..
Yaa..dia tak pernah mengungkapkan
rasa sayangnya..
Tapi aku tau dia begitu peduli,, begitu menyayangi ku,, dan
mencintai ku sepenuh hatinya..
Dengan caranya dia selalu membuat ku nyaman..
Terlihat cuek diluar tapi perhatian didalam..
Raut wajahnya menggambarkan
keceriaan..
Mampu menularkan senyuman dan
semangat pada ku dan orang-orang di sekitarnya..
Aku sangat rapuh ketika itu..
Tapi dia selalu memeluk ku
hangat dengan senyumannya,, menjaga ku dalam diamnya..
Aku menaruh banyak harapan
padanya..
“Kamu masih mau menjelajah dunia bersama ku kan..?”, katanya dalam
sebuah surat ketika aku melemah..
Dia memotivasi ku untuk sembuh.. Untuk tetap
tersenyum ketika aku lemah..
Dia lah yang terindah ketika itu..
Aku tau Tuhan
memberi disaat aku membutuhkan,, bukan disaat aku menginginkan..
Dan ketika
waktu ku bersamanya seolah sudah habis..
Tuhan membutuhkannya..
Dan aku harus
melepasnya di persimpangan..
Ku hantar dia yang terindah untuk bekerja di ladang
Tuhan..
Aku merelakannya..
Tuhan yang mempertemukan,, mempersatukan,, dan
memisahkan..
Dan aku merasakan kehilangan yang kedua..
Kehilangan yang begitu
mulia..
Malaikat yang dikirim Tuhan harus kembali pulang..
20 November 2011 aku mengenalnya..
Terlalu awal setelah
kehilangan ku yang kedua..
Seperti api yang selalu berkobar-kobar..
Dia selalu
bersemangat.. Membicarakan apa pun yang ada dalam pikirannya..
Mimpi-mimpinya,,
obsesi-obsesinya,, semua hal..
Tak pernah lelah.. Tak pernah kehilangan
gairah..
Raut wajahnya menggambarkan betapa banyak mimpi-mimpi yang ingin dia
perjuangkan..
Dia menjaga ku dengan sangat posesif..
Membawa ku kemana dia
pergi.. Mengantar ku kemana aku pergi..
Seolah ingin melindungi ku dari setiap
kelemahan dan kerapuhan ku..
Dia sempat menjadi yang indah ketika itu..
Sebelum
akhirnya semua berubah..
Dia diam.. Seperti bukan dia lagi..
Tak pernah menjaga
ku dengan posesifnya..
Seorang gadis yang sangat kukenal kini dijaganya dengan
posesifnya..
Aku tau,, tapi aku diam..
Aku lepaskan dia di persimpangan..
Aku
rela.. Aku merasakan kembali kehilangan
yang ketiga..
Dan inilah kehilangan yang menyakitkan..
Hingga akhirnya
trauma-trauma kehilangan di persimpangan membuat ku takut untuk merasakan
kehilangan lagi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar